Lokakarya Penguatan Manajemen GEDSI : Dorong Implementasi Program yang Inklusif dan Berkelanjutan

Lokakarya Penguatan Manajemen GEDSI: Dorong Implementasi Program yang Inklusif dan Berkelanjutan

Mataram, 28 Oktober 2025 – Dalam semangat memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-97, para pegiat sosial, relawan, dan pemangku kepentingan dari berbagai lembaga berkumpul di Hotel Aston Inn Mataram untuk mengikuti Lokakarya Penguatan Manajemen GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam mendorong penerapan prinsip GEDSI di setiap program pembangunan, terutama di sektor energi dan lingkungan berkelanjutan.

Lokakarya ini diselenggarakan oleh jaringan relawan peduli energi bersih dan ramah lingkungan, bekerja sama dengan sejumlah organisasi masyarakat sipil di Nusa Tenggara Barat. Fokus utama kegiatan kali ini adalah penguatan implementasi program GEDSI agar setiap kegiatan pembangunan tidak hanya berorientasi pada hasil ekonomi, tetapi juga menjamin keadilan sosial, kesetaraan gender, serta keterlibatan aktif kelompok difabel dan masyarakat marjinal.

Mendorong Manajemen Program yang Inklusif

Dalam sambutan pembukaannya, Mbak Nur Jannah sekaligus penggerak energi hijau, menyampaikan bahwa manajemen program yang kuat menjadi fondasi utama keberhasilan implementasi GEDSI. “Kita tidak bisa bicara tentang inklusi sosial tanpa memperkuat sistem manajemen. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program, harus memastikan bahwa tidak ada kelompok yang tertinggal,” ujarnya.

Melalui lokakarya ini, para peserta diajak untuk meninjau kembali bagaimana lembaga atau komunitas mereka mengelola program, khususnya dari aspek perencanaan partisipatif, penganggaran sensitif gender, dan mekanisme monitoring-evaluasi berbasis inklusi.

NJ menekankan pentingnya perubahan paradigma, di mana program tidak lagi dilihat hanya dari sisi “output”, melainkan dari dampaknya terhadap kelompok-kelompok rentan. “Kita ingin setiap kegiatan yang dilakukan memiliki nilai tambah sosial, bukan hanya menyelesaikan proyek,” tegasnya.

Diskusi dan Studi Kasus Implementasi GEDSI

Sesi utama lokakarya diisi dengan diskusi interaktif dan studi kasus lapangan dari berbagai daerah di NTB yang telah mengintegrasikan prinsip GEDSI dalam kegiatan mereka. Salah satu contoh menarik datang dari komunitas energi terbarukan di NTB, yang berhasil melibatkan perempuan dalam pengelolaan biogas rumah tangga.

Melalui pelatihan dan pendampingan, para ibu rumah tangga kini bukan hanya pengguna, tetapi juga pengelola sistem energi ramah lingkungan yang membantu menekan emisi karbon sekaligus mengurangi beban ekonomi keluarga. “Dulu perempuan dianggap tidak punya kapasitas teknis, tapi dengan pendekatan GEDSI, mereka terbukti mampu memimpin inisiatif energi bersih di tingkat rumah tangga,” ujar salah satu narasumber yang juga pegiat energi berbasis komunitas.

Selain itu, diskusi juga menyoroti tantangan implementasi GEDSI di sektor pembangunan infrastruktur dan lingkungan. Beberapa peserta menyampaikan bahwa masih ada hambatan dalam penerapan prinsip kesetaraan di tingkat desa, baik karena keterbatasan pemahaman maupun faktor budaya.

Namun, melalui penguatan kapasitas dan pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan perubahan dapat berjalan secara bertahap dan berakar pada nilai-nilai lokal yang inklusif.

Pendekatan Berbasis Kolaborasi dan Aksi Nyata

Kegiatan lokakarya ini juga menjadi ruang kolaborasi antarpelaku dari berbagai sektor — mulai dari lembaga pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, hingga perwakilan komunitas difabel dan pemuda. Mereka bersama-sama merancang rencana aksi implementasi GEDSI tahun 2026, dengan fokus pada tiga bidang prioritas:

  1. Energi bersih dan akses keadilan iklim,

  2. Pemberdayaan ekonomi inklusif berbasis Pokja, dan

  3. Penguatan kapasitas kelembagaan lokal.

Melalui pendekatan partisipatif, peserta lokakarya dibagi ke dalam kelompok kerja untuk menyusun strategi implementasi yang realistis dan kontekstual. Setiap kelompok menghasilkan usulan program yang dapat dijalankan secara kolaboratif, seperti pelatihan wirausaha inklusif, kampanye hemat energi, hingga pengembangan data terpadu berbasis GEDSI di tingkat desa.

Salah satu peserta dari komunitas pemuda menyampaikan antusiasmenya. “Kami ingin menjadi bagian dari solusi, bukan hanya penonton. GEDSI bukan sekadar konsep, tapi cara kita memastikan bahwa setiap warga, siapa pun dia, punya ruang dan kesempatan yang sama,” ujarnya penuh semangat.

Membangun Komitmen Bersama untuk Bumi dan Keadilan Sosial

Sebagai penutup kegiatan, seluruh peserta menandatangani Deklarasi Komitmen GEDSI NTB 2025, yang berisi tekad bersama untuk memperkuat praktik manajemen program yang transparan, inklusif, dan berkeadilan. Deklarasi tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan energi dan lingkungan tidak akan tercapai tanpa kesetaraan sosial di dalamnya.

Kegiatan ini juga meneguhkan peran relawan sebagai agen perubahan yang tak hanya peduli terhadap Bumi dari sisi ekologis, tetapi juga dari sisi kemanusiaan. “Kita tidak bisa bicara energi bersih tanpa bicara keadilan sosial. GEDSI adalah jembatan antara keberlanjutan lingkungan dan keberlanjutan manusia,” tutur salah satu panitia penutup dengan penuh makna.

Lokakarya yang berlangsung selama satu hari ini diakhiri dengan sesi refleksi bersama, di mana peserta diajak untuk merumuskan langkah-langkah lanjutan pasca-kegiatan. Harapannya, hasil dari lokakarya ini tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan menjadi gerakan nyata menuju pembangunan yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada semua.

Penulis: Pokja Informasi dan Publikasi
Editor: Tim Komunikasi GEDSI NTB
Tanggal: 28 Oktober 2025
Lokasi: Hotel Aston Inn Mataram

Posting Komentar untuk "Lokakarya Penguatan Manajemen GEDSI : Dorong Implementasi Program yang Inklusif dan Berkelanjutan"