Pertemuan Reguler Tematik GEDSI JET NTB Dorong Transisi Energi Berkeadilan Melalui Data Pilah Disabilitas dan UMKM Inklusif

Pertemuan Reguler Tematik GEDSI JET NTB Dorong Transisi Energi Berkeadilan Melalui Data Pilah Disabilitas dan UMKM Inklusif

Mataram — Transisi energi menuju sistem yang lebih bersih dan berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan kebijakan. Aspek keadilan sosial, inklusivitas, serta keterlibatan kelompok rentan menjadi fondasi penting agar perubahan tersebut benar-benar berdampak luas dan tidak meninggalkan siapa pun. Kesadaran inilah yang mendorong Forum Gender Equality, Disability and Social Inclusion–Just Energy Transition (GEDSI JET) Working Group Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar Pertemuan Reguler Tematik bersama komunitas.

Kegiatan bertajuk Serial Reguler Tematik I: Data Pilah Disabilitas dan UMKM Berbasis Just Energy Transition (JET) ini diselenggarakan pada Rabu, 14 Januari 2026, bertempat di Hotel Aston Inn Mataram, mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WITA. Forum ini menjadi ruang diskusi strategis lintas sektor untuk memastikan transisi energi di NTB berjalan adil, inklusif, dan berbasis data.

Ketua GEDSI JET WG NTB, Baiq Dewi Anjani, dalam undangan resminya menegaskan bahwa transisi energi yang berkeadilan harus mampu menjawab tantangan ketimpangan akses yang selama ini dihadapi perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya. Di NTB, keterbatasan akses tersebut tidak hanya terjadi pada pemanfaatan energi bersih, tetapi juga dalam pengambilan keputusan serta peluang ekonomi yang muncul dari agenda transisi energi.

“Data pilah disabilitas menjadi titik tolak penting untuk mengidentifikasi hambatan, kebutuhan, dan peluang penyandang disabilitas dalam transisi energi. Tanpa data yang akurat dan inklusif, kebijakan berpotensi mengabaikan kelompok yang justru paling rentan terdampak,” ujar Baiq Dewi Anjani.

Tantangan Inklusivitas di Tengah Transisi Energi

Secara global, penyandang disabilitas diperkirakan mencapai sekitar 15 persen dari populasi dunia. Di Indonesia, sekitar 650 ribu anak tercatat sebagai penyandang disabilitas. Namun, dalam praktik pembangunan, termasuk sektor energi, kelompok ini kerap luput dari perencanaan. Hambatan fisik, sosial, dan ekonomi masih menjadi penghalang utama dalam mengakses layanan energi modern dan terjangkau, terutama energi terbarukan di wilayah terpencil.

Situasi tersebut berpotensi memburuk jika transisi energi dilakukan tanpa perencanaan yang inklusif. Ketergantungan sebagian penyandang disabilitas pada teknologi asistif, misalnya, menuntut pasokan listrik yang stabil dan terjangkau. Tanpa kebijakan yang sensitif terhadap kebutuhan ini, transisi energi justru dapat memperbesar kerentanan.

Selain itu, NTB memiliki tantangan geografis sebagai provinsi kepulauan dengan disparitas antar kabupaten/kota yang cukup tinggi. Kapasitas pemerintah daerah yang beragam turut memengaruhi perumusan dan implementasi kebijakan energi. Kondisi ini menuntut pendekatan berbasis data yang kuat agar kebijakan yang dihasilkan tepat sasaran dan adil.

Data Pilah sebagai Fondasi Kebijakan

Dalam konteks inilah, data pilah disabilitas menjadi sangat urgen. Data ini tidak hanya berfungsi sebagai statistik, tetapi sebagai dasar perencanaan inklusif yang memungkinkan pemerintah dan pemangku kepentingan memahami kondisi nyata penyandang disabilitas. Mulai dari akses terhadap infrastruktur energi terbarukan, partisipasi dalam pelatihan kerja hijau, hingga keterlibatan bermakna dalam proses pengambilan keputusan.

Kerangka hukum nasional pun telah mengamanatkan hal tersebut. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menegaskan pentingnya inklusi dalam seluruh aspek pembangunan, termasuk sektor energi. Pertemuan tematik GEDSI JET ini diharapkan dapat menjadi langkah konkret untuk menerjemahkan mandat hukum tersebut ke dalam praktik kebijakan di tingkat daerah.

UMKM Berbasis JET sebagai Solusi Ekonomi Inklusif

Selain isu data pilah disabilitas, forum ini juga menyoroti peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mendukung transisi energi yang adil. Peralihan dari energi fosil ke energi terbarukan diperkirakan berdampak pada perubahan struktur ekonomi, termasuk potensi hilangnya lapangan kerja di sektor tertentu. UMKM dinilai memiliki peran strategis sebagai solusi diversifikasi ekonomi lokal, terutama di daerah yang selama ini bergantung pada bahan bakar fosil.

Akses energi berkelanjutan memungkinkan UMKM mengadopsi sumber energi terbarukan seperti surya dan biomassa. Selain lebih ramah lingkungan, energi bersih juga menawarkan pasokan yang lebih stabil dan biaya operasional jangka panjang yang lebih rendah. Dengan demikian, UMKM berbasis JET tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi, tetapi juga meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat.

Forum Pembelajaran dan Kolaborasi

Melalui proyek WE for JET, GEDSI JET WG NTB menargetkan pada tahun 2028 perempuan dan penyandang disabilitas dapat memperoleh manfaat nyata serta berperan aktif dalam transisi energi yang adil, transformatif, dan berkelanjutan. Pertemuan Reguler Tematik ini menjadi bagian dari strategi tersebut.

Kegiatan dirancang dalam bentuk diskusi partisipatif, mulai dari brainstorming mengenai urgensi data pilah disabilitas dan UMKM berbasis JET, diskusi kelompok terkait metode pengumpulan dan identifikasi data, hingga perumusan rencana tindak lanjut. Fasilitator kegiatan adalah Dwi Arie Santo, anggota Pokja Data, Informasi, dan Riset GEDSI JET WG NTB.

Peserta kegiatan berasal dari berbagai unsur, termasuk Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas ESDM NTB, Dinas Koperasi dan UMKM NTB, Dinas Sosial P3A NTB, akademisi dari Universitas Mataram dan UIN, komunitas Sekolah Setara, organisasi penyandang disabilitas, media, hingga lembaga swadaya masyarakat. Total peserta mencapai 31 orang, mencerminkan komitmen kolaboratif lintas sektor.

Menuju Transisi Energi yang Tidak Meninggalkan Siapa Pun

Pertemuan Reguler Tematik GEDSI JET ini diharapkan menghasilkan pembelajaran bersama, praktik baik pengumpulan data pilah disabilitas, serta identifikasi potensi pengembangan energi terbarukan yang berdampak langsung pada pemajuan UMKM berbasis JET di NTB. Lebih dari itu, forum ini menjadi pengingat bahwa transisi energi bukan semata persoalan teknis, melainkan proses sosial yang harus menjunjung prinsip keadilan.

Dengan pendekatan berbasis data dan kolaborasi, GEDSI JET WG NTB berupaya memastikan bahwa agenda menuju Net Zero Emission tidak meninggalkan perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya. Transisi energi yang berkeadilan bukan hanya pilihan, tetapi keharusan untuk masa depan NTB yang inklusif dan berkelanjutan.

DOKUMENTASI FOTO [ DISINI ]

DOKUMENTASI VIDEO [ DISINI ]

Posting Komentar untuk "Pertemuan Reguler Tematik GEDSI JET NTB Dorong Transisi Energi Berkeadilan Melalui Data Pilah Disabilitas dan UMKM Inklusif"