Media dan Komunitas di NTB Perkuat Narasi Transisi Energi Berkeadilan Berbasis GEDSI

Media dan Komunitas di NTB Perkuat Narasi Transisi Energi Berkeadilan Berbasis GEDSI

Mataram – Upaya memperkuat narasi transisi energi yang adil dan inklusif terus dilakukan di Nusa Tenggara Barat. Forum Gender Equality, Disability and Social Inclusion – Just Energy Transition (GEDSI JET) Working Group NTB bersama Yayasan Penabulu melalui program WE for JET menggelar kegiatan Pertemuan Reguler Tematik tentang GEDSI JET dan Community Based Organization (CBO) bersama Media.

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 11–12 Maret 2026, di Hotel Aston Inn Mataram, dan melibatkan berbagai unsur media, organisasi masyarakat sipil, komunitas, serta akademisi. Pertemuan tersebut bertujuan memperkuat peran media dan komunitas dalam membangun narasi publik yang inklusif terkait transisi energi berkeadilan di Nusa Tenggara Barat.

Ketua GEDSI JET Working Group NTB, Baiq Dewi Anjani, dalam undangan kegiatan menyampaikan bahwa transisi menuju energi bersih tidak hanya berkaitan dengan perubahan teknologi dan investasi energi, tetapi juga harus memperhatikan keadilan sosial bagi masyarakat yang terdampak.

“Suara perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya masih belum banyak terangkat dalam diskursus pembangunan energi. Karena itu, media memiliki peran penting sebagai jembatan antara pengalaman komunitas dengan ruang kebijakan publik,” ujarnya.

Menurutnya, melalui pemberitaan dan narasi yang inklusif, media dapat memperkuat perspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) dalam agenda Just Energy Transition (JET). Dengan demikian, isu transisi energi tidak hanya dipahami sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat.

Ruang Kolaborasi Media dan Komunitas

Pertemuan reguler tematik ini dirancang sebagai ruang diskusi dan penulisan bersama antara media dan komunitas untuk memperkuat narasi transisi energi yang berkeadilan berbasis pengalaman masyarakat di daerah.

Transisi energi saat ini menjadi salah satu agenda penting pemerintah Indonesia dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim. Namun dalam praktiknya, perempuan dan kelompok rentan lainnya seringkali tidak dilibatkan secara aktif dalam proses perencanaan maupun pengambilan keputusan terkait kebijakan energi.

Padahal, kelompok-kelompok tersebut justru dapat menjadi pihak yang paling terdampak oleh perubahan kebijakan energi. Ketimpangan sosial yang masih terjadi membuat pengalaman mereka kerap tidak terakomodasi dalam kebijakan pembangunan.

Dalam konteks tersebut, pengalaman dan pengetahuan perempuan serta kelompok rentan sangat penting untuk disuarakan. Narasi kampanye berbasis GEDSI JET dinilai mampu menjadi jembatan antara kebijakan makro dengan realitas yang terjadi di tingkat komunitas.

Melalui kegiatan ini, media didorong untuk menyebarkan narasi pengarusutamaan GEDSI dalam transisi energi kepada publik yang lebih luas. Selain itu, media juga diharapkan mampu mengangkat cerita inspiratif dan data primer dari komunitas, khususnya perempuan dan penyandang disabilitas.

Media sebagai Aktor Perubahan

Dalam diskusi yang berlangsung selama kegiatan, peran media sebagai aktor strategis dalam memperjuangkan keadilan sosial menjadi salah satu fokus utama pembahasan.

Media dinilai memiliki kemampuan untuk membongkar bias narasi yang seringkali menutupi ketidakadilan sosial dalam proyek-proyek energi. Dengan menggunakan bahasa yang lebih inklusif dan manusiawi, media dapat membantu masyarakat memahami bahwa transisi energi juga berkaitan dengan kesejahteraan sosial.

Selain media arus utama, media alternatif juga memiliki peran penting dalam menyuarakan kondisi riil masyarakat marginal yang seringkali tidak mendapat ruang dalam pemberitaan nasional.

Melalui pemberitaan yang sensitif terhadap perspektif gender dan disabilitas, media dapat membantu memastikan bahwa agenda pembangunan energi berjalan secara lebih adil dan inklusif.

Materi dan Diskusi Tematik

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang membahas isu transisi energi dari perspektif media dan jurnalisme.

Media dan Komunitas di NTB Perkuat Narasi Transisi Energi Berkeadilan Berbasis GEDSI

Narasumber pertama, Susi Gustiana, Sekretaris AJI Mataram, menyampaikan materi berjudul “Potret Transisi Energi Berkeadilan Skala On Grid dan Off Grid di Nusa Tenggara Barat dalam Perspektif Jurnalis Perempuan.”

Dalam paparannya, ia menyoroti pentingnya sudut pandang jurnalisme yang sensitif terhadap isu perempuan dan kelompok marginal dalam pemberitaan transisi energi.

Sementara itu, narasumber dari RRI Mataram membawakan materi mengenai “Amplifikasi Publikasi Narasi Just Energy Transition di Media untuk Memperkuat Suara Kepemimpinan Perempuan dan Kelompok Marginal dalam Pembangunan Energi Terbarukan yang Inklusif.”

Materi tersebut menekankan pentingnya kolaborasi antara media dan komunitas dalam memperluas jangkauan informasi serta memperkuat advokasi kebijakan energi berkeadilan.

Selain sesi pemaparan, peserta juga mengikuti diskusi kelompok, brainstorming, serta praktik menulis narasi kampanye berbasis GEDSI JET.

Kegiatan ini difasilitasi oleh Rohani Inta Dewi, yang memandu peserta dalam mengidentifikasi isu-isu strategis serta merumuskan tema-tema penting terkait pembangunan energi terbarukan di NTB.

Merumuskan Klaster Narasi Transisi Energi

Salah satu tujuan utama kegiatan ini adalah merumuskan klaster tema spesifik terkait pembangunan energi terbarukan, baik dalam skala on grid (skala besar) maupun off grid (skala komunitas).

Melalui diskusi dan praktik penulisan, peserta diminta mengidentifikasi berbagai isu penting yang dapat diangkat sebagai narasi publik mengenai transisi energi berkeadilan.

Tema-tema tersebut kemudian dikembangkan menjadi tulisan yang dapat dipublikasikan melalui media maupun platform komunikasi komunitas.

Selain itu, kegiatan ini juga membuka ruang penulisan bersama yang memungkinkan kolaborasi antara jurnalis, aktivis, dan komunitas dalam menyusun narasi yang lebih komprehensif dan berbasis pengalaman lapangan.

Kolaborasi Lintas Sektor

Sebanyak 36 peserta terlibat dalam kegiatan ini yang berasal dari berbagai lembaga, termasuk media seperti Lombok Post, Harian Nusa, Tribun Lombok, Radar Lombok, Suara NTB, TVRI NTB, ANTARA, hingga Inside Lombok.

Selain media, kegiatan ini juga melibatkan organisasi masyarakat sipil, komunitas penyandang disabilitas, organisasi perempuan, akademisi, serta komunitas lokal seperti Sekolah Setara.

Keberagaman peserta menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat narasi transisi energi yang inklusif.

Koordinator Provinsi WE for JET Yayasan Penabulu, Nur Janah, menyebut bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk memastikan keterlibatan perempuan dan kelompok disabilitas dalam agenda transisi energi.

Melalui program ini, diharapkan pada tahun 2028 perempuan dan kelompok disabilitas dapat memperoleh manfaat nyata serta berperan aktif dalam pembangunan energi yang adil, transformatif, dan berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat.

Membangun Narasi Energi yang Inklusif

Melalui kegiatan ini, GEDSI JET Working Group NTB berharap semakin banyak narasi publik yang menyoroti dimensi sosial dalam transisi energi.

Transisi energi tidak hanya tentang pengurangan emisi atau pembangunan pembangkit energi terbarukan, tetapi juga tentang bagaimana kebijakan tersebut memberikan manfaat yang adil bagi seluruh masyarakat.

Dengan keterlibatan media, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil, narasi mengenai energi berkeadilan diharapkan semakin kuat dan mampu mempengaruhi kebijakan pembangunan yang lebih inklusif di masa depan.

Pertemuan reguler tematik ini menjadi salah satu langkah penting dalam memastikan bahwa transisi menuju energi bersih di Nusa Tenggara Barat berjalan dengan prinsip “tidak meninggalkan siapa pun.”

DOKUMENTASI = [ UNDUH ]

Posting Komentar untuk "Media dan Komunitas di NTB Perkuat Narasi Transisi Energi Berkeadilan Berbasis GEDSI"